Search

my random thoughts

about anything

Month

June 2009

kau dengan dirimu saja, aku dengan diriku saja *curcol tengah malam*

Entahlah,

apa karena waktu kecil pernah punya cita-cita pengen jadi jaksa (lalu urung gara-gara sering nonton film yang jaksanya suka dibunuh-bunuhin), atau karena bertumbuh di tengah nilai-nilai yang cukup saklek, gua jadi orang yang lumayan rusuh kalo ngeliat keganjilan terjadi di depan mata. Jangankan di depan mata, denger aja bisa mencak-mencak :p.

Banyak, banyak ‘keganjilan’ yang sudah terjadi dan gua rasain selama ini. Ada kalanya gua memilih untuk sebodo teuing, walo tetep dalam hati mikirin. Ada kalanya gua ributin, dan gak jarang gua menyesal jadinya.

Emang gua siapa mereka? Emang mereka siapa gua? Who cares???
Ngeliat ‘nilai-nilai’ anak muda sekarang (d’oh, vintage banget gak sih gua T.T) jujur gua jadi pusing.
Mo dibilang nilai-nilainya turun, wahai alangkah sombongnya gua, emangnya nilai-nilai 10 taon yang lalu itu yang paling bener? Buktinya gua juga gak setuju dengan beberapa the so-called nilai-nilai di salah satu pelayanan gereja gua tercinta, dan itu baru gua sadari sekarang, setelah dulu-dulu itu menerapkannya dengan ‘taat’ dan ‘tunduk pada otoritas’. Ha ha ha.

Tapi sungguh, sumpah Pramuka, gua masih belum bisa memandang beberapa isu dari kacamata anak-anak sekarang.
Seperti ada yang bisa ngajakin TTM si temen mesranya terang-terangan, atau yang kalo dikasih masukan langsung nyerang balik, atau yang dengan leluasa menghujat pemimpinnya di media massa (untung pemimpinnya bukan RS Omni, bisa-bisa udah masuk penjara seumur hidup tuh, xixixixi).
Tapi ada juga lho, di suatu momen curhat uneg-uneg, gua termasuk yang menuangkan uneg-uneg gua, eh… pemimpin gua malah dipanggil dan ditegor gara-gara itu. Lha lu yang nyuruh gua nyampein uneg2, kenapa jadinya salah? Astaga, suddenly gua jadi ngerti kenapa bisa terjadi kasus Prita.

Some things are inexplicable and better left untouched.

Tapi gimana donggg… gua bisa jambak-jambak rambut sendiri kalo udah liat case by case berparade di depan gua.
What can I do? Or, more precisely, do I have to do something?
Sometimes I have to remind myself, hey, stop it, mind your own business, biarin aja lah. Seperti kata BCL, “mereka pun pernah mudaaa… saatnya kau dan aku sekaranggg…”

rain rain oh rain

Entah sejak kapan aku gak suka sama hujan.

Padahal, kalo diingat-ingat, waktu kecil aku suka memandangi hujan dari balik jendela kaca besar di ruang tamu rumahku. Well back then, rumahku masih belum direnovasi macem-macem seperti sekarang. Aku senang melihat jalanan beraspal abu-abu yang membasah, orang-orang yang berlari menembus hujan, pengendara motor yang tetap ngebut dengan jas hujannya, atau ada yang nekat, memegang payung (I practiced this one before), pemandangan rumah seberang yang buram karena tertutup tirai air, dan bau hujan yang khas.

Itu dulu. Waktu aku belum mengenal dan merasakan yang namanya banjir, karena waktu itu aku masih di pulau tercinta, pulau Bangka.

Di sinilah, di Jakarta Raya, selain berbagai kesenangan, kurasakan juga berbagai derita. My first encounter with cocroach, makan nasi dengan gorengan, macet, dicopet, dan banjir.

2002, Februari, banjir besar yang melanda Jakarta, mengikutsertakan aku sebagai pesertanya secara paksa. Sambil setengah tidur waktu itu, aku merasakan bocor di kamar kosku. Sambil memejamkan mata, aku berdoa dalam hati, “Tuhan, hentikanlah hujan ini. Amin.” Tapi Tuhan tidak mengabulkan doaku dan jadilah banjir besar pertama yang pernah kurasakan. Hampir tengah malam, ketika kuarungi lautan banjir setinggi pahaku untuk mengungsi ke rumah saudara.

Beberapa hari kemudian, saat kembali ke kos, semuanya benar-benar sudah berantakan. Baju-baju, buku-buku, semua terendam banjir dan menyisakan lumpur serta bau yang bikin mual! Berhari-hari aku mencoba melenyapkan bau itu, huhh…

Tak lama, aku pindah ke Tanjung Duren, kali ini rumah milik keluarga. Ternyata, banjir belum rela melepas diriku. Sebagai salah satu rumah yang terendah di gang situ, rumahku acapkali kemasukan air, belum lagi saluran pembuangan air yang ternyata ngaco, sempat membuat lantai 1 & 2 rumahku tergenang air. Hah…

2007, Februari, banjir besar kembali terjadi. Thanks God, rumahku yang sudah selesai dibetulin sana-sini luput dari bocor dan serbuan air dari selokan.

Tapiiiii…. baru-baru ini, tepatnya 2 hari yang lalu, tepat di hari liburku, terjadi lagi! Hujan besarrrr yang membuat garasiku terendam dan gara-gara gak inget menyumbat saluran dari bawah, air kembali meluap! Hahhh….

Berjam-jam aku mencoba membersihkan rumah setelah surut… sempat terlompat kaget waktu melihat keluarga besar kecoa merayap di kamar mandi bawah. Segera kusemprot si jaminan mutu banyak-banyak. Hah, tak percuma, mati juga mereka itu. Lalu, entah kekuatan dari mana, aku punya keberanian yang cukup untuk mengenyahkan mereka. I crushed them, literally, yang penting rumahku bersih aja. Hah….

Tapi cukup sehari itu ya… jangan lagi ya… hujan, please bersahabatlah padaku lagi seperti dulu.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.