“Jika kamu bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu, apakah yang ingin kamu ubah?”

Biasanya, setiap kali saya dapet pertanyaan kayak gini, pasti saya jawab: “Nope, yang mesti terjadi ya sudah terjadilah.”

Tapi gak tau beberapa hari ini rasanya saya berubah pikiran. Ada, ada yang ingin saya ubah.

Misalnya, 2 tahun yang lalu…

Ketika waktu itu dia meninggalkan saya di ruangannya karena lagi sebal dengan saya dan lagi kesengsem dengan kucing itu.

Waktu itu saya menunggu dengan patuh, menelan segala kebohongannya dengan satu intimidasi, “Lu gak percaya ya sama gua?”

Seandainya saya bisa kembali ke masa itu, saya sudah tahu apa yang akan saya lakukan. Saya akan keluar dari ruangannya, mengemasi laptop saya, pamit pulang pada teman sekerja saya dengan any excuse I can make, memanggil taksi, dan baru mengirimkan SMS kepadanya saat taksi sudah jauh dari kantor. Bunyinya begini, “If you really can’t stand seeing me, I’ll do you grace by leaving and give you limitless time with her. Goodbye.”

There. If only, if only I had guts to do that… Tapi waktu telah bergulir tanpa bisa ditarik kembali. Dan semua yang telah terjadi memang seharusnya terjadi. Meninggalkanku dengan bekas-bekas luka yang belum cukup sembuh hingga saat ini.