Or more likely, a wedding day?

Buat saya sih, marriage adalah kehidupan pernikahan yang akan kita jalani kelak, setelah wedding day, hari pernikahan kita. Jadi, dibanding kegiatan dan ritual yang berlangsung satu hari itu, sepertinya mestinya kita lebih pay attention more ke kehidupan seumur hidup yang akan dijalani setelah itu.

Yeah, sounds idealistic banget.

I’m getting married next two years. Pelan-pelan, kita sedang membuat rencana pernikahan dan acaranya sendiri. Saat membuat rencana ini, saya baru menyadari, ternyata saya dan calon sama-sama orang yang tidak mau sama dengan orang lain, mau sesuatu yang beda, original dan cost-effective, hahaha…

Calon saya, atau saya biasa panggil Bee, dengan cermat sudah membuat financial plan, dan terlihat dari situ, dia jelas lebih berfokus pada days after that particular day. Uang yang dikumpulkan dikonsentrasikan untuk mencicil mobil, karena kita punya cadangan kalo masalah rumah.

Untuk the day sendiri, terus terang saya gak neko-neko. Bermodal impian, saya ingin sekali punya gaun pengantin yang hand-made. Karena itu waktu seorang sahabat, Indira, bercerita kalo dia kursus menjahit di Susan Budihardjo, saya memberanikan diri untuk minta dia menjahitkan gaun pengantin. Credit goes to her, dia lebih berani lagi dengan menyanggupinya. Berarti saya tinggal cari orang yang ngurus make-up dan hair-do.

Untuk foto juga, Bee lebih senang meminta teman-teman sendiri yang foto. Memang kami kenal beberapa orang yang punya taste bagus untuk foto.

Tapi saya pun mulai dapat masukan, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Ada yang bilang, kalo habis meritan itu sisanya ya foto, jadi pastikan itu yang terbaik, jangan andelin temen, cari yang pro! Ada yang dengan warna wajahnya, menyatakan ketidaksetujuannya.

Gini, gini… I love the idea of making the wedding day perfect. But perfect doesn’t mean expensive, right? Sempurna gak berarti mewah, all-out gak berarti soal uang. As someone stated before, “Abis merit emang mereka pikirin kita makan apa?” Totally right!

Tapi seringkali kita jadi terjebak dengan ‘kebiasaan’ yang udah menjamur banget di sini.

Saya jadi mikir, apakah saya pelit? Hm… sebenernya punya uang 1 truk pun rasanya saya sayang buat ‘dekorasi’ pernikahan ini. Kecuali uangnya 10 truk deh, hahaha…

Back to topic, apakah saya pelit? Rasanya gak. Cuma sayang aja, susah payah ngumpulin uang untuk di-spend dalam waktu beberapa jam saja. Oke, mungkin ada yang menyanggah, it’s once in a lifetime! I know, I know. Tapiii… saya masih bingung. Perlukah semua pernak-pernik itu, in the name of “once in a lifetime”? Can it be an excuse?

Gak tahu deh. Kita lihat aja nanti bagaimana.

Yang pasti, kita pengen punya wedding day yang simple, tapi elegan. Berkesan. Yeah, cliche. Tapi yang ‘us’ banget. Nah, yang ‘us’ banget itu yang kadang-kadang gak bisa diterima oleh semua orang. Terus.. do we need to listen to what they say???

Advertisements