Search

my random thoughts

about anything

Month

April 2014

A bittersweet goodbye

Honestly, I’m not proud of how I end it. Not the way I imagined, not how I planned it to be. Although he accepts it quite smoothly, still, I’d prefer another way – a gentler way – should I be given another chance.

I’m talking about a wonderful, honorable journey of a mother; breastfeeding.

After gathering like a lot information through the Internet, about 3 years ago, I determined to breastfeed my baby. And I made it. Through ups and downs (namely, engorged breasts, nipple blisters to an underweight baby).

I tried to keep up with the WHO’s recommendation, like no water and solid before the baby is 6 months-old, and keep breastfeeding until at least he is 2 years-old. And I did. More. Continue reading “A bittersweet goodbye”

Advertisements

Yesaya 54

So, last night was a bit rough, we talked about our future. He didn’t feel supported. Well, I didn’t respond to his explanation about the plan, so I knew I was wrong 😦

Anyway, we have talked about it, and (hopefully) solved it.

Well, however, that night, before I dozed off, an old song came to my mind, only the first part of the lyrics. I didn’t remember the whole song though, so after looking for it in YouTube, this is the song.

And the verses really made my long-gone tears rolled down my cheek. Continue reading “Yesaya 54”

No Kids Allowed part 2

Nyambung sedikit dari post sebelum ini ah.

Jadi di kelas KEGA (a.k.a Sekolah Minggu) Ben, lagi ada kebiasaan baru. Setiap akan worship, lampu akan diredupkan. Nah, sudah beberapa kali gw menyadari kalau ketika momen lampu redup itu, pasti ada satu-dua anak yang mulai menangis. Ben sendiri pun akan mulai rusuh, “Gewap, gewap. Apu ala.” (Gelap, nih. Lampu nyalain dong -terj.).

Gw belum sempet nyamperin kakak pembinanya langsung sih buat coba kasih masukan, agar gak usahlah redup-redupin lampu. Kalo pun perlu, gak perlu segelap biasanya. Lagian buat apa sih kebiasaan matiin lampu itu? Ngikutin kebiasaan ibadah orang dewasa? Biar lebih khusyuk? Yang ada lebih ngantuk kali ya, hehehe. Dan jujur saja, for some kids, kondisi yang tidak terlalu terang tersebut bisa gak nyaman. Buat apa memaksakan kebiasaan orang dewasa pada anak kecil?

As I have stated in the previous post, anak kecil bukanlah orang dewasa versi mini. Mereka punya sifat dan pembawaan khas anak-anak.

Suka jejeritan, itu nature mereka.

Menangis ketika tidak mendapat apa yang mereka inginkan, itu nature mereka.

Tiba-tiba suka memukul tanpa diajarin (yaiyalah siapa juga orang tua waras yang ngajarin anaknya buat mukulin orang), itu nature mereka.

Cranky kalo kelamaan diam di satu tempat, itu nature mereka.

 

Yang gak natural buat gw itu misalnya, video anak-anak Korea Utara yang lagi main gitar ini. Creepy as hell, bener. Kayaknya gw gak perlu jelasin, just watch it and you’ll get what I mean. Atau misalnya, akting seorang aktris cilik bernama Ashida Mana (sori ya, fans), yang mendunia waktu berperan sebagai Mako Mori kecil di Pacific Rim. Waktu ngeliat dia di PR sih emang gw langsung kepincut. Duhhh unyunyaaaa, cakeppp banget, aktingnya juga kerennn. Lalu gw dikasih nonton serial TV yang pernah dia bintangi, Marumo no Okite. Awal-awal lucu dan mengharu-biru sih. Lama-lama, gw ngerasa creepy sendiri. Ada gitu, anak yang ceritanya umur 5 tahun, gak dapet tas sekolah berwarna pink dan ada lope-lope yang dia idam-idamkan, bisa pura-pura tersenyum ceria dan memuji-muji tas pink polos yang sebenarnya gak dia sukai, hanya demi menjaga perasaan si pemberi? Ada gitu, anak 5 tahun, begitu kepengin satu barang, tapi gak berani minta? Ada gitu, anak 5 tahun, udah panik gara-gara sodara kembarnya demam, tapi gak enak nelpon caregiver-nya karena sebelumnya si caregiver memberitahu mereka kalau hari itu dia sedang ada perjalanan bisnis yang penting? Ada gitu, anak kecil yang sedemikian pengertian?

Keponakan cewek gw, baru akan menginjak 6 tahun, kalo lagi kepengin sesuatu, dia pasti mengusahakannya. Entah dengan meminta langsung, atau dengan akal bulus, seperti menyodorkan adiknya sebagai pihak yang menginginkan hal itu. “Auntie, ini Kimi mau makan permennya.”

Kalo dia lagi nonton Disney Junior favoritnya, lalu orang-orang dewasa di ruangan yang sama asik mengobrol dengan suara kencang, dia gak akan segan-segan memprotes, “Gak kedengaran niiihhh,” atau langsung menaikkan volume TV.

Gak ada tuh, ceritanya dia menggugu penuh pengertian kalo dikasih tau dia gak boleh kencengin suara TV seperti itu. Gak ada tuh, ceritanya dia tersenyum manis dan berkata, “Gak apa-apa,” ketika dikasih tau dia gak boleh makan es krim sekarang. Dia akan merengut, memelas, menangis, dan mungkin menjerit, agar permintaannya diluluskan.

That’s kids.

 

And I cannot overemphasize this; I’m not giving excuse for their mischievous behaviour. Tapi bedakanlah, itu memang nature mereka. Tugas orang tua atau orang dewasa yang berkewajiban adalah untuk membentuk, mendisiplin agar perilaku itu tidak menjadi kebiasaan apalagi karakter si anak. Jadi, kalo lagi makan khusyuk di restoran dan tiba-tiba dikagetkan dengan jeritan atau tangisan seorang anak, don’t be too quick passing on judgement like, “Anak kecil sialan.” Kita sendiri gak bakal suka kan kalo misalnya, dipaksa makan makanan yang kita gak suka, disuruh duduk diam puluhan menit sementara orang lain di sekitar kita mengobrol dengan seru tentang topik yang we have no idea at all?

Suka tidak suka, itulah nature mereka. Memang, seringkali hal itu menganggu kita, tapi bukankah memang bagian kita, sebagai the so-called orang dewasa, untuk menawarkan lebih banyak pengertian?

Isn’t it ironic,

we tell people to “stop being childish!” or “quit acting like a kid!”

yet,

we expect kids to act like a grown-up most of the time?

 

No Kids Allowed (?)

Tadi malam gw makan di Bakso Wang, Ruko Crystal, Gading Serpong. Tempatnya sederhana, dindingnya dihiasi poster-poster makanan (yaiyalahya masak poster model rambut), juga beberapa pesan dan rekomendasi pemilik yang lucu dan ringan bahasanya.

Nah, tadi itu si Ben makannya hopping tables. Untung yang makan di sana cuma kami (kita bertiga sama Ci Devi dan krucils), tapi gw cukup haleluya juga ngejer Ben yang beberapa suap sekali pindah meja. Seorang mbak pelayan pun berkomentar, “Wah, makannya jalan-jalan nih.” “Iya nih, pindah-pindah meja dia,” sahut saya.

Di meja terakhir, saat lagi menyuapi Ben, tau-tau saya didatengi si mbak. Dia meletakkan dua boneka clay Smurf kecil di depan Ben dan bilang, “Nih, buat mainan.” Daaann Smurf pun sukses membuat Ben duduk anteng di tempat sampai suapan terakhir 😀 Continue reading “No Kids Allowed (?)”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.