Yes!

Jadi seminggu yang lalu, tepatnya Selasa, 7 Maret 2017, saya mengurus visa ke Australia untuk kami berlima (Papa, Mama, Aries, saya, dan Ben).

Hampir sebulan sebelumnya saya sudah mengumpulkan amunisi informasi dari berbagai blog, orang yang pernah mengurus sendiri – karena semua teman saya yang pernah ke Australia mengurus visa lewat agen – dan tentu saja website VFS yang sudah bolak-balik saya kunjungi. Mumet! Mungkin karena mereka tidak to the point, satu section saja bisa mengarahkan kita ke 2-3 link, deeeuhh.

Sebenernya sih gak ribet-ribet amat persyaratannya. Antara lain yang berhasil saya ingat:

  1. Fotokopi paspor (lengkap dengan halaman belakang dan halaman yang sudah terisi cap negara lain, jika ada. Saya kemarin bawa hanya fotokopi lembar identitas, jadi harus menyusulkan fotokopi halaman yang disebut di atas).
  2. Fotokopi KK, KTP, akte lahir, surat nikah (Mama juga menyertakan SKBRI Kung-Kung dan surat bukti ganti nama), apa saja yang bisa menunjang pembuktian identitas kita.
  3. Fotokopi NPWP, bagi yang punya.
  4. Surat pengantar dari tempat kerja, bagi yang punya. Pada dasarnya surat ini berfungsi untuk menegaskan bahwa kita memang punya pekerjaan di sini, tidak berniat cari kerja di Australia, dan kita pasti akan kembali untuk melanjutkan pekerjaan.
  5. Rekening koran dari bank. Tidak disebutkan jumlah minimal saldo, tapi yang kemarin kita kasih sih, rekening tabungan kami, jadi memang jumlahnya lumayan. Transaksinya juga tidak banyak karena kami hanya menabung dan mengambil sesekali, paling setahun 3 kali.
  6. Pas foto 3×4 (seukuran paspor) atau kalau sesuai panduan di website, 3,5 x 4,5. Semua dalam ukuran sentimeter. Papa Mama memberikan foto 3×4, kami 3,5×4,x5.

Kayaknya segitu ya. Pokoknya yang ada di website VFS ikutin saja. Oh ya, jangan lupa paspor asli dibawa juga, karena nanti diperiksa.

VFS berlokasi di Mal Kuningan City. Bagian yang mengurus visa ke Australia ada di lantai 2. Tanya aja satpam Mal, mereka langsung tau, kok. Sampai di lantai 2, ternyata lift langsung membuka ke VFS. Sempat jiper karena kok rame amat orang di depan, ternyata di dalam lumayan sepi. Pengamanan berlapis, hape pun harus disenyapkan.

Pengurusan visa Australia ternyata satu ruangan dengan pengurusan visa UK dan New Zealand. Konter untuk agen dan personal dibedakan. Saya menunggu sekitar 30 menit sebelum dipanggil. Kabarnya mereka yang mengurus aplikasi visa Australia ini paling ramah dibandingkan negara-negara lain. Memang sih, Mbak yang menerima saya ini penuh senyum, sampaiiiii dia melihat formulir saya.

“Maaf, Bu, ini formulir Ibu sudah tidak up-to-date. Kami sudah update form baru, ini ada kodenya di bawah, 2017. Punya Ibu masih yang 2015.”

JEDERRRRR. Saya mulai panik. Gimana ini? Tapi saya coba menenangkan diri dan bertanya apakah ada kemungkinan visa ditolak gara-gara pake formulir lama. Si Mbak juga tidak tahu dan tidak berani menjamin.

“Mungkin Ibu download udah lama ya,” tebak si Mbak. 

“Bulan lalu, sih. Memang kapan update-nya?” tanya saya.

 “Per 1 Maret kemarin, Bu.”

AHELAH. Kacek 6 hari dia malah update form!

Saya pun pamit dulu buat diskusi dengan Aries dan Cevi karena tidak boleh menelepon di depan konter. Aries meyakinkan untuk maju. Rese aja kalo sampe ditolak gara-gara form gak update, wong isiannya sama plek-plek semua. Cevi agak ragu. Saya malas harus isi lagi 5 set formulir plus kirim-kirim ke Bangka lagi. Ya udah, saya pun nekad maju.

Saya kembali ke konter Mbak tadi. Si Mbak pun menegaskan lagi bahwa mereka tidak bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin aplikasi diterima karena semua terserah kedutaan. Iya Mbak, iya. Baru selesai satu formulir, si Mbak digantikan oleh temennya. Temennya ini lebih galak gitu bentuknya. Dia bahkan menuliskan catatan kaki di lembar checklist-nya: applicant insists to use old form. Hati saya lumayan ciut, tapi show must goes on. Ternyata si Mbak kedua ini gak segalak tampilannya. Menjelang selesai periksa aplikasi, dia tiba-tiba bilang, “Ibu, kalo dari kedutaan minta disusulkan form baru, Ibu tinggal bawa ke kami, ya.”

“Oh, gak perlu bayar lagi?”

“Gak usah. Dianggap dokumen susulan saja,” kata si Mbak.

OH GOOD LORD ITU YANG KUPERLU TAHU.

“Prosesnya 15 hari kerja, dipotong Senin besok kita ada Canberra’s Day, jadi libur 1 hari,” lanjut si Mbak.

Okeeee.

Setelah 7 hari, tepatnya 4 hari kerja, saya mengintip email, dan yeaaay! Your visa is approved!

WOKEH! Sekarang saatnya hunting tiketttttt!

Advertisements