Rabu seminggu yang lalu, pagi hari setelah menyiapkan sarapan untuk Ben, si bayi menangis minta digendong. Saya menghampiri bayi yang sedang tergolek di kasur, lalu entah berjongkok atau berlutut, kemudian menggendongnya. BAM. Tiba-tiba sekujur punggung saya seperti dialiri listrik. Sakitnya tak tertahankan. Si bayi nyaris terlempar kembali ke kasur, tangisan yang tadi berhenti pun mengencang lagi. Mungkin dia bingung, “Kok aku ditaruh lagi, Mamaaaaaa?”

Saya hanya bisa tengkurap. Posisi bintang laut. Tak pernah saya sangka, saya akan berada dalam posisi tersebut hingga 1 jam ke depan.

Yang ada di rumah pagi itu hanya saya, Ben, dan bayi C. Saya tengkurap dan berharap sakitnya segera mereda.Jadi sakitnya itu seperti kencaaaaaang banget di punggung bawah, menekan dengan dahsyat, lalu mereda, lalu tanpa aba-aba, diulang lagi dari nol. Setelah beberapa saat jelas harapan saya itu akan kandas, saya mulai memutar otak, apa yang harus dilakukan. Hal pertama yang saya lakukan: cek refleks ujung-ujung jari kaki dan tangan. Saya goyang-goyangkan tangan dan kaki, bagus, masih bisa gerak dan terasa. Coba nungging, uh-oh, sakitnya langsung menyerang. Saya hanya bisa jerit-jerit sendiri. Ben belum mengerti dan dia mungkin mengira ini sedang seru, jadi dia malah menandak-nandak kegirangan di sebelah adiknya T.T

Setelah cek refleks masih oke, saya putuskan segera menelepon suami. Saya minta dia pulang segera. Namun ada yang lebih mendesak saat itu: Cardin yang terus menangis dan saya yang tak berdaya hanya bisa menepuk-nepuk kaki gempalnya. Mau tak mau saya ambil pilihan terakhir: minta Ben memanggilkan tetangga seberang. Beruntung pintu pagar tidak digembok, jadi si mami seberang bisa masuk. Dia memijat-mijat ringan punggung saya sambil menggendong Cardin. Tidak lama kemudian, adik saya yang baru pulang jalan-jalan pagi bersama keluarga kecilnya pulang. Mereka mengambil alih, lalu syukurlah, Aries tiba.

Aries menawarkan memanggil tukang urut, tapi saya tidak berani. Setelah diskusi dalam posisi bintang laut yang makin lama bikin dada sesak, diselingi dengan Ben mandi, Cardin berhasil tidur tetapi belum bisa dinenenin (ini bikin saya galau banget), konsultasi ke Mama, akhirnya kami sepakat untuk ke rumah sakit. Adik saya berbaik hati izin dari jadwal mengajarnya hari itu untuk membantu mengurus anak-anak.

Mau ke dokter mana? Saya memilih ke dokter saraf. RS mana? Ke RS langganan, namun  dokter sarafnya baru ada agak sore. Akhirnya ketemu dokter yang jam praktiknya lebih panjang di RS lain yang ada di Kebun Jeruk. Tugas berikutnya, gimana caranya supaya saya bisa diangkut ke RS. Mengangkat kepala saja perjuangan. Akhirnya bermodal nekad dan pemaksaan, saya pun digulingkan, diiringi jeritan-jeritan tak penting itu. Setelah berhasil tengkurap, saya langsung minta nenenin si bayi. Pas baring miring sih rasanya jauh lebih nyaman, saya nyaris tertidur malah.

Namun sepertinya ini harus tetap ke RS, jaga-jaga jika kambuh atau ada sakit yang lebih serius. Saya pun dibopong untuk berdiri, lalu dibawa ke mobil. Saya mulai bisa menguasai rasa sakitnya, jadi ketika sakitnya terasa, saya segera melemaskan badan. Berhasil. Gini-gini udah melahirkan normal dua kali cyin, sakit begini mestinya bisa diatasi layaaaaa.

Nyampe di RS, drama belum selesai. RS-nya rame banget! Mungkin karena menerima BPJS, jadi ini semacam RS rasa Puskesmas. Kursi roda penuh, ke UGD pun penuh. Mau tak mau saya dipindahkan menggunakan kursi biasa. Untunglah satpam RS sigap membantu. Saya terkagum-kagum bagaimana terlatihnya beliau, dengan tenang dan mengabaikan rengekan saya, beliau mengangkat ketiak saya (WOW GAK SAKIT LHO!), mendudukkan saya di kursi, lalu menggotong kursi tersebut bersama Aries dan Dipta. Lalu mendudukkan kursi itu di… depan pintu masuk. Dengan posisi menghadap pintu. KIKUK BANGET YA LORD. Cuma bukan saya kalau gak cuek ya, wkwkwk.

Singkat cerita, saya pun digulirkan ke lantai 3, ketemu dengan dokter saraf yang dandy. Dengan tenang dia bilang ini cedera otot dan langsung menawarkan bius lokal, berupa Lidocaine yang disuntikkan langsung ke otot yang sedang tegang itu. Bok, baru 2 kali suntik langsung enakan banget. Kayaknya kira-kira saya disuntik 6 kali. Hm, lain kali kalo males pijat, bisa banget lho minta suntik ini aja, hahaha. Si dokter dengan agak buru-buru mengakhiri konsultasi, memberi saya resep tiga obat: 1 untuk pelemas otot, 1 untuk mengurangi inflamasi, dan 1 lagi Counterpain PXM yang harganya 100 ribuan saja Saudara-saudara.

Sudah seminggu tragedi mini itu terjadi. Saya sudah merasa nyaris normal lagi. Masih belum berani ngangkat yang berat-berat pastinya, namun sudah setrong lagi untuk sapu-pel-masak-mandiin bayi.

Sekarang mesti nyari olahraga stretching yang oke nih….

 

Advertisements