Aries punya fasilitas BPJS dari kantor, si bayi yang waktu itu baru lahir pun bisa langsung dibuatkan kartu. Keren, ya.

Nah, saya mau ganti kaca mata, rencananya, sih, mau coba pakai BPJS. Namun sebelum itu, saya mau coba dulu untuk berobat biasa.

Sudah 3 mingguan saya gatal-gatal. Biduran, istilah kerennya. Aneh, karena saya hampir tidak pernah mengalaminya. Seumur-umur saya hanya alergi sama udang yang udah gak segar dan cacing laut. Keduanya menimbulkan efek yang sama: mata saya tiba-tiba bengkak, tanpa gatal-gatal di kulit.

Saya sama sekali bingung soal penyebabnya. Kalau makanan, jenis apa? Saya sempat terpikir telur, karena selama 6 bulan menyusui eksklusif, saya pantang telur. Kalau lengah, pipi Mochi pasti langsung bruntusan. Setelah Mochi mulai makan, saya juga menyambut kembali telur ke dalam diet saya. Nah kalau begini kan pusing ya, baru juga ketemu lagi lauk andalan, eh mesti pantang lagi. Tapi tak mengapa, demi kesehatan, ya gak. Hm, sebenarnya demi kenyamanan, sih, soalnya GATEL BIANGET, BOK. Belum kalo saya ngaca, duh, miris bener lihat kulit badan ancur merah-merah, bahkan ada yang mengelupas kayak bekas cacar.

Pantang telur tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Pantang apa lagi nih? Dairy? Coret. Seafood? Coret. Sambel? Coret lagi. Udara dingin? Panas juga gatel-gatel. Saya coba minum Cetirizine, yang ada teler 2 hari. Duh, ga enak banget deh, badan dan pikiran kayak melayang-layang selama 2 hari :((

Akhirnya saya memutuskan untuk memanfaatkan kartu BPJS. Faskes 1 yang tercantum di kartu adalah Puskesmas Tanjung Duren Selatan, yang deket banget sama rumah. 

Pukul 8 lewat sedikit saya mampir ke sana. Ternyata sudah rame, sudah ambil antrean ke-38 (saya). Kata Bapak di sebelah saya, nomor yang dipanggil  sudah urutan ke-22. Dia sendiri nomor 37. Wah, cepat juga nih, batin saya. Tapi saya tidak bisa nunggu, karena saya belum menyiapkan sarapan untuk si Mochi. Buru-buru saya pulang, menyiapkan sarapan si bayi, menitipkan Ben ke Mama, lalu bergegas balik ke Puskesmas, daaaaannnnn NOMOR SAYA TERLEWAT, SAUDARAAAAA. Kelewatan 2 nomor doang! ARGH.

Terpaksa ngulang. Dapat nomor 58. Ya Tuhan jauh aja kepentalnya.

Ya sudah, mau dikata apa. Saya duduk di sana menunggu bersama belasan warga lainnya. Gak nunggu terlalu lama, 30 menit lebih lah, nomor saya sudah dipanggil. Ada beberapa orang yang gak muncul, sih. Dan setiap kali ada nomor yang dipanggil dua kali, kita dengan semangat ngomporin, “Lewatin aja, Pak!” Muahahaha. Gak inget yeee situ juga kelewat kaaan tadiiii.

Di meja pendaftaran yang dilayani hanya oleh satu orang (mas-mas yang ramah, ceria, dan merangkap pusat informasi juga), saya menyerahkan kartu asli BPJS untuk dilihat, lalu informasi saya dicatat. Saya bilang saya ingin ke dokter umum. Lalu saya diarahkan untuk menunggu lagi. Gak sampe 30 menit, nama saya dipanggil.

Saya masuk ke ruang praktik dokter yang… ehm, yang mana ya? Ada satu orang berjas putih yang memanggilkan pasien, ada satu suster kali ya, yang sigap menyambut saya dan menyuruh saya menimbang badan dan mengukur tensi. Sekadar info, berat badan saya kemarin 58 kilo. Ahay masih jauh  ya. Setelah proses penimbangan dan pengukuran yang tidak lama itu, saya disuruh duduk di depan seorang pria berkemeja batik, mengenakan masker, dan dengan jari-jarinya yang gempal lincah mengetuk-ngetuk layar tablet. IYA. Saya dianggurin sekian menit, tjuy. Bilang ‘maaf’ atau ‘bentar ya, Bu’ aja gak. Saya sempat menangkap bayangan si suster yang melirik ke si oknum dokter. Lalu saya berdeham. Pria batik itu meletakkan tabletnya dan langsung menanyakan keluhan saya.

Saya menunjukkan bekas biduran di tangan dan leher, lalu sementara saya menceritakan riwayat biduran itu, si dokter batik itu langsung mencoret-coret kertas resep. Gak ditanya apa-apa, seperti misalnya, ada alergi apa gak, Bu? Sudah berapa lama? Ada alergi obat? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang lazimnya diajukan oleh dokter di rumah sakit. Kandungan obat juga tidak dijelaskan, yang ada saya yang bawel nanya-nanya. Petugas apotek di depan sana jauuuh lebih ramah dan informatif saat menjelaskan tentang obat.

Anywayssss, saya dikasih 4 macam obat. 2 obat makan (Loratadine & Prednisolon), satu bedak salicyl, dan 1 salep Betametason. Gratis.

Total saya di Puskesmas paling lama 1 jam. Dan pulang dengan menenteng kantong kecil berisi obat-obat gratis itu menjadi salah satu pengalaman yang membuat hidup saya sedikit lebih kaya hari itu. Ternyata gak ribet ya pake BPJS! Kalo di Puskesmas. Mbuh ya kalo udah harus ke RS gitu, kan konon antreannya dibedain sama yang bayar umum.

Oya, obatnya ternyata manjur juga kok, walaupun generik dan gratisan ^^ Sekali doang pake talc-nya dan 2-3 hari minum obatnya, langsung kelihatan efeknya. Kusukaaaaaa ~

Jadi semangat buat minta rujukan untuk bikin kaca mata! Hihi.

 

Advertisements