Secara kasat mata saya memang tidak bekerja. Jika pengertian “bekerja” adalah keluar dari rumah pagi hari untuk melakukan aktivitas yang kelak diganjar dengan sejumlah uang pada tanggal tertentu, kemudian pulang ke rumah sore atau malam harinya, ya, memang saya tidak bekerja.

Namun jika bekerja yang dimaksud adalah tidak berdiam diri, melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat bagi orang lain, ya, saya bekerja sebagai ibu rumah tangga – disclaimer: yang sangat jauh dari sempurna.

p.s.: Kedua definisi bekerja di atas adalah hasil karangan saya sendiri 😀

Nah, selain menunggu gajian suami yang akan dilimpahkan kepada saya di akhir bulan, terkadang saya juga bisa menghasilkan uang sendiri. Tentu bukan dengan cara menabung kepada Taat Pribadi, tetapi dengan menggunakan (to utilize) ilmu yang saya dapatkan dulu semasa kuliah, ditambah dengan minat dan passion saya di bidang tersebut, yaitu menerjemahkan tulisan dari bahasa Inggris ke Indonesia.

Dimulai dari tahun 2003, ketika saya nekat keluar dari kantor pertama saya dan menjawab tawaran pekerjaan lepas dari sebuah penerbit besar. Mulai dari bekerja di kamar buku yang panas dengan hanya ditemani kipas angin, meminjam komputer kakak saya, mulai dari buku-buku Harlequin yang bikin saya sakit kepala (“Gimana pun juga buku-buku itu menghasilkan uang buatmu, lho,” begitu tegur kakak saya), hingga hari ini, saya bisa bekerja dengan nyaman dengan menggunakan laptop yang cukup bagus, kamar ber-AC, dan internet kencang.

Beragam tipe klien sudah saya temui. Ada yang bawel minta ketemu dulu – sementara saya paling enggan bertemu orang, ada yang bawel minta revisi, ada yang tidak banyak cingcong; setelah menerima hasil terjemahan langsung bayar (favoritlah ini), ada yang mesti ditagih dulu baru bayar, ada yang pas mau bayar berinisiatif melakukan pembulatan… ke bawah (ADA), ada pula yang suka menawar.

Nah, tipe terakhir ini biasanya (di kasus saya, ya) menggunakan satu senjata bak bunga mawar dibalut duri runcing: Pelayanan. Biasanya ngomongnya gini, “Bisa kurang lagi gak, ya? Ini, kan, buat pelayanan, hehe.”

Awalnya, saya tergugah dan meluluskan permintaan mereka. Pikir saya, Tuhan yang memberikan talenta ini, masak saya tega mengenakan biaya sebesar itu untuk pelayanan bagi-Nya? Ada amin, Saudara-saudara?

Waktu berlalu, usia saya bertambah, dan pemikiran saya tidak selugu itu lagi. Terus terang saya mulai malas jika sudah ada embel-embel “pelayanan” ketika ingin meminta jasa saya.

Hellooooo, sebenarnya apa sih yang dimaksudkan dengan “ini buat pelayanan”?

Berdasarkan perenungan saya berikut makna di balik kalimat sakti tersebut:

  1.  TOLONG MURAHIN DIKIT, KALO BISA GRATIS SEKALIAN. Maklum, pelayanan, biasanya anggarannya memang seadanya. Klien tersayang, lebih baik kalian bilang dari awal bahwa anggaran kalian adanya segini, jangan pakai alibi “pelayanan”. Kalau begini, kan, kesannya gereja Tuhan itu miskin. Ya, memang sih, ada gereja-gereja yang uang kasnya tidak banyak, tetapi kalau yang meminta ini gerejanya besar, gedungnya megah, yakali ah minta gratis.
  2. INI, KAN, BUAT PELAYANAN, BUKAN KOMERSIAL. UNTUK KALANGAN SENDIRI, GITU LHO. Klien tersayang, baik itu untuk buku-buku terbitan penerbit ternama Indonesia atau untuk buku saat teduh gereja, saya mengerahkan kemampuan yang sama, lho. Saya menggunakan laptop yang sama, kecepatan internet yang sama, dan jika diperlukan, penggalian konteks yang lebih dalam untuk mendapatkan hasil terjemahan yang lebih mengena. Jadi apa maksudnya kalau “untuk pelayanan” berarti kita boleh sesukanya memberikan jasa? Seperti misalnya kalau pelayanan di gereja, kalau yang menjadi worship leader suaranya masih fals, kita biasanya bisa memaklumi, kan, “Ya, namanya juga pelayanan.” Masak iya kalian bisa memaklumi kalau saya menerjemahkan “he went for good and won’t return” menjadi “dia pergi demi kebaikan dan tidak akan kembali”?

 

Saya kerja ini buat mendapatkan uang, lho, bukan untuk mengisi waktu luang. Kalau untuk waktu luang, mah, mendingan saya main Candy Crush. Itu pun kalau ada waktu luangnya (dadah-dadah ke satu anak 6 tahun dan satu bayi 8 bulan, plus rumah tanpa PRT). Jadiiii, setiap menit yang saya gunakan untuk melakukan tugas penerjemahan itu, yang sering kali dan biasanya hanya bisa dilakukan menjelang tengah malam setelah si bayi pulas, waktu tidur yang saya tukar dengan memelototi teks asal berganti-gantian dengan kamus, mengetik, menghapus, mengetik, merevisi, berulang-ulang, itu ya demi mendapatkan uang sebagai tambahan bayar listrik, atau sekadar jajan lucu, beli baju anak, dsb.

Kalau ada yang protes, “Lho, ini kan buat pelayanan, kita bagikan secara cuma-cuma, kok kamu kenai segini?”, hmmm, begini. Talenta dan minat itu memang intrinsik, Tuhan yang karuniakan. Saya punya tanggung jawab untuk mengembangkannya, seperti kisah hamba dan talenta itu, lho. Dalam upaya memaksimalkan talenta tersebut, tentu ada expense yang saya lakukan. Bukan hanya bicara uang, tetapi juga waktu dan jasmani. Mohon maaf, ketiga expense tersebut saya takar dengan kisaran nominal uang. Maklum, masih tinggal di dunia, jadi masih perlu bayar First Media yang makin mahal ini aja, woy.

Bicara soal pelayanan, ketika Kristus ada di bumi dan melakukan tugas pelayanan-Nya, saya yakin Dia memberikan yang terbaik, mengerahkan seluruh kapasitas diri-Nya sebagai seorang manusia. Bagaimana tidak, Dia sampai mati, kok, di Bukit Golgota. All out. Tidak setengah-setengah. Saya mau meniru Dia dalam hal memberikan yang terbaik. Saya malu kalau dalam pekerjaan ini saya tidak mengusahakan yang terbaik. Karena itu, jangan menggunakan kedok “pelayanan” sebagai upaya untuk mendapatkan jasa murah atau gratis dari saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik, dan itu ada harganya. Soal upah di Surga, biarlah itu menjadi urusan Surga. Soal upah di bumi, ya itu urusan para klien tersayang :).

 

 

Advertisements