Iri juga rasanya kepada orang-orang yang bisa dengan bebas mencurahkan isi hatinya, yang dengan lepas menumpahkan keluhan-keluhannya – sereceh apa pun itu – di media sosial.

Bukannya saya tidak pernah melakukannya. Hampir 10 tahun yang lalu, dinding Facebook menjadi saksi curhatan-curhatan saya. Agak malu, sih, kalau dibaca sekarang.

Bukannya saya tidak mau mencobanya lagi. Tetapi setiap kali ingin menulis, berbagai keraguan menyerbu. Apa kata orang? Aduh malu, ibu-ibu dua anak kok sibuk curhat di media sosial. Aduh, kok kayaknya norak, yaa.

Bukan, bukannya saya bermaksud menyindir mereka yang punya keberanian lebih untuk terbuka di media sosial adalah orang-orang yang norak. Sungguh, saya kagum sekaligus iri kepada mereka. Karena kadang enggak enak, lho, kayak saya begini. Apa-apa disimpan sendiri, kadang cerita ke suami, namun, yah, enggak bisa semua.

My feeling is poetic, yet most of the time I couldn’t find words to embody it. Or, to be more exact, I couldn’t stand the judgment I might get.

Duh, yang berasa artis, hahaha.

 

 

Advertisements