Suatu hari kacamata yang mungkin berumur lebih dari 3 tahun ini mulai terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, kok, enggak kebaca lagi tulisan yang jauh – padahal biasanya jelas. Saatnya ganti, nih.

Karena kami adalah keluarga yang ogah rugi, maka kami memutuskan untuk menggunakan fasilitas tanggungan kacamata dari BPJS. Langsung saya rangkum pengalamannya di bawah ya!

Disclaimer: ini sekaligus curhat

 

TAHAP 1

Pergilah ke faskes 1 sesuai yang ada di kartu Anda. Faskes saya di Puskesmas Tanjung Duren Selatan. Mengantre nomor dipanggil kurang dari 30 menit, lalu bertemu dokter. Ealah, si dokter yang kemarin ketemu lagi. Masih khusyuk dengan layar ponselnya. Tetapi kali ini beliau lebih cepat merespons. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mendapatkan surat rujukannya (setelah ketemu dokter, lho, ya. Nunggu dokternya sendiri sih bisa 30 menit). Saya memilih RS Pelni untuk rujukan spesialis mata.

 

Karena malamnya terjadi tragedi surat rujukan yang ketumpahan air dan ternyata tintanya ambyar, mau tidak mau besoknya saya mengulangi tahap 1 ini. Mohon jangan ditiru, setelah mendapatkan surat rujukan, simpan baik-baik kalau tidak ingin kena omel suster Puskesmas (iye, saya kena omel).

Pada proses tahap 1 kedua ini (belibet, ih) saya datang lebih siang ke Puskesmas. Mungkin mas-mas adminnya sudah layu pada jam-jam segitu, jadi pasien harus berinisiatif mengantarkan kartu nomor antre kepada beliau, nanti beliau segar lagi dan segera memanggil nomor pasien. Kalau enggak, ya silakan duduk sampe pegel juga enggak dipanggil-panggil, seperti yang terjadi pada seorang ibu yang menanti dengan sabar di sebelah saya. Ibu yang sama merekomendasikan Sumber Waras alih-alih Pelni. “Pelni rame banget, mendingan Sumber Waras,” demikian ujar beliau. Saya yang semalam sudah parno membaca review negatif tentang Pelni pun merasa diteguhkan dan mengganti rujukan RS. Untung diperbolehkan, karena surat rujukan belum dipergunakan. Yeay! Ada gunanya juga sekali-kali ceroboh.

 

TAHAP 2

Lanjutkan perjuangan Anda ke RS rujukan. Sebelum berangkat ke Sumber Waras, saya menelepon untuk menanyakan jadwal dokter.

“Senin sampai Sabtu ada, Bu,” jawab manusia di seberang sana.

“Mulai dari jam berapa, Pak?”

“Jam 7 pagi, Bu.”

“Sampai jam berapa?”

“Sampai selesai, Bu.”

Jujur saya agak bingung, karena sudah terbiasa dengan jadwal dokter yang cukup ketat di RS langganan. Pukul 8 sampai 12 siang, misalnya. Pukul 5 sore hingga 8 malam, misalnya. Ya sudahlah, saya berpikir positif saja.

Dua hari setelah menerima surat rujukan baru, pagi-pagi saya dibonceng suami pun bergulir ke Sumber Waras. Sempat salah masuk ke gedung lain, ternyata saya harus mendaftar dulu di gedung khusus BPJS. Gedungnya sederhana, ber-AC, kursinya banyak, dan benar, masih manusiawi antreannya.

Serahkan:

  • fotokopi kartu BPJS
  • fotokopi KTP
  • fotokopi surat rujukan dari faskes 1

 

Petugas antrean akan memberikan kartu nomor dan formulir yang harus diisi untuk pasien baru seperti saya. Saya tiba sekitar pukul 07.30, mendapat urutan 56. Nomor yang dipanggil baru urutan ke-8. Di sini antrean dibagi per loket. Saya enggak hafal loket-loket lainnya, saya sendiri dapat antrean di loket D, yang khusus menampung pasien kandungan, mata, dan, hm, satu lagi apa ya. Lupa, hamba. Bagus juga, sih, jadi enggak numpuk di satu loket. Pukul 08.45, urutan sudah sampai di nomo 41. Sambil menunggu kami jajan kue dan mencoba vending machine Blu Mart, dan akhirnya pada pukul 09.15, nomor saya dipanggil.

Serahkan:

  • fotokopi KTP
  • fotokopi kartu BPJS

 

Saya mendapat selembar kertas hijau semacam kuitansi, lalu saya disuruh pergi ke gedung sebelah, naik ke lantai 2, cari poli mata. Saya mendapat dokter yang memang saya incar, Dr. Siti Fatimah SR. Sebelum cabcus saya pastikan lagi ke petugas loket, “Mas, saya tinggal nunggu dipanggil, kan, di sana? Perlu kasih surat ini dulu apa gimana?”

“Iya, Bu, tinggal tunggu aja.”

 

TAHAP 2B

Di lantai 2 gedung sebelah, pukul 09.21.

Saya mendatangi pos suster dan menunjukkan lembar hijau tersebut. Menurut suster yang saya datangi, surat tersebut tidak perlu diserahkan ke poli mata. Tunggu saja, nanti dipanggil. Oke, deh.

Tunggu punya tunggu, si bayi sudah mulai ribut, Aries menyuruh saya bertanya ke suster poli mata.

Saya pun patuh dan bertanya ke suster berambut pirang semir tersebut.

“Sus, nama saya sudah masuk antrean belum, ya?”

“Nama Ibu siapa??”

Ya, saya pakai 2 tanda tanya karena memang demikianlah intonasi bertanya si suster.

“Dewi, Sus. Dewi Sunarni.”

Dia membolak-balik catatannya. “Enggak ada, tuh. Mana surat-suratnya??”

Entah firasat dari mana kok dia tahu saya pasien BPJS, ya.

“Enggak ada, Sus. Saya cuma dikasih kertas hijau.”

Saya tunjukkan lembar hijau tersebut.

“Aduh, Ibuuuuu, jangan disimpan, dong, kertasnya. Kalo enggak dikasih ya sampe 3 tahun juga enggak bakal dipanggil!!”

Oke, saya makin kesel, nih.

“Lho, kata suster di situ,” saya tunjuk pos di samping, “enggak perlu kasih suratnya.”

Si suster pirang semir pun manyun. “Ohhh gitu….”

“Suster jangan marahin saya, dong!”

Dia diam saja dan meminta saya menunggu lagi. Tidak lama, saya pun dipanggil masuk.

Dia juga yang menangani saya. Kali ini berubah 180 derajat, dong. Sikapnya ramah, manis, dan sopan. Minus saya memang bertambah, tetapi tidak banyak, 0,5 saja masing-masing mata. Silinder juga bertambah, tetapi saya lupa berapa, ehehe. Pemeriksaannya enggak lama sih, ada juga periksa tekanan bola mata. Puji syukur masih baik. Plus juga enggak ada. Rada nelangsa waktu ditanya suster, “Ini kacamatanya memang kuning, Bu?”

“SUDAH kuning, Sus.” Hiks.

Pemeriksaan terakhir dengan dokter. Lalu saya diresepkan kacamata. Entah kenapa, waktu diberikan resep tersebut, suster yang menyampaikannya (bukan si pirang semir) menggenggam tangan saya erat-erat. Hm.

 

 

TAHAP 2C

Kembali ke gedung BPJS. Pukul 10.00. Sesuai instruksi suster yang menggenggam tangan saya tersebut, saya mencari Dokter Inge. Saya serahkan resep untuk dilegalisir oleh beliau. Kirain cepat, ternyata 30 menit lebih saya menunggu. Pukul 10.55 resep yang sudah dilegalisir saya terima dengan selamat. Hore! Jadi total waktu di RS Sumber Waras kurang lebih 4 jam. Masih normal, lah.

 

TAHAP 3

Karena Aries sudah keburu cuti hari itu – karena saya desak juga, hoho, ya abis gimana, enggak ada yang pegang si baybuy – kami pun langsung ke optik. Saya mendapat 4 rujukan optik. Melawai di Slipi Jaya, dan sisa tiganya saya gelap. Tentu saya pilih Melawai, karena justru saya tahu di sana menerima resep BPJS makanya saya mau pakai fasilitas ini.

Dan di Melawai inilah untuk pertama kalinya saya merasakan pelayanan BPJS yang ramah dari awal. Petugasnya baik banget. Tidak ada kesan merendahkan atau menyepelekan. Saya pesan kacamata hari Rabu, proses 4 hari, dan disuruh mengambil pada hari Minggu kuturut ayah ke kota.

 

Minggu, 12 Agustus 2018, saya menerima kacamata gratis dari BPJS dengan penuh rasa sukacita dan syukur. Yang pertama tentu karena ini gratis, yang kedua karena akhirnya saya bisa melihat dengan lebih jelas lagi, yang ketiga karena lega, mata saya masih relatif baik. Terima kasih BPJS!

 

IMG_6555-1
Ini nih kacamata barunyaa
Advertisements