Kalau kita googling soal tinjauan atau kesaksian tentang minyak esensial, hasilnya seabrek. Mulai dari kesaksian merangkap jualan, sampai ke kesaksian murni karena mengalami sendiri khasiatnya.

Nah, lain halnya kalau kita googling soal minyak asli Indonesia (Bali, halo!) ini. Mencari kesaksian pribadi pengguna – tanpa embel-embel jualan – itu seperti mencari kehangatan di hatimu #eh. Susah banget, kalau tidak mau dibilang tidak ada. Ada sih, tapi sepertinya itu karena sponsor, atau selewat saja, tanpa cerita mendetail.

Punya anak yang gampang batuk pilek sungguh bikin deg-degan. Anak saya yang pertama sedari bayi itu tangguh. Jarang banget sakit, sekali sakit juga cepat sembuh dan paling anti disuruh minum obat. Jadi kuat-kuatan doa saja selain kuat-kuatan menahan kekuatan si anak yang meronta-ronta waktu dicekoki obat. Giliran yang kedua, haduh. Belum genap setahun saja udah pernah kena radang paru. Pilek 3 minggu, seminggu reda, eh minggu depannya kok ya meler lagi. Bolak balik dokter tentu bikin cape raga, jiwa, pikiran, dan tentunya tabungan. Akhirnya saya mencoba mencari ikhtiar lain.

Mau mencoba minyak-minyak esensial yang sangat terkenal itu, eh, membaca daftar harganya saja langsung bikin saya mundur teratur. Nah, dalam pencarian itu, bertemulah saya dengan si Kutus-kutus ini. Namanya lucu, ya, iya. Yang lebih lucu ya itu, yang tadi saya singgung di atas, enggak ada kesaksian pribadi pengguna murni. Akhirnya karena penasaran, sekaligus namanya juga ikhtiar, saya pun membeli minyak ini dari seorang teman. Harganya sama, di semua platform jualan Rp230.000,00. Asyiknya, saya mendapat gratis ongkos kirim dari si teman, hihihi. 

Hari ini, minyak Kutus-kutusnya tiba. Saya coba dulu, ya. Nanti saya update lagi bagaimana hasilnya. Mungkin 1-2 bulan ke depan, karena di brosur yang disertakan dalam kemasannya juga dikatakan 2/3 bulan diharapkan kondisi kesehatan si pengguna sudah stabil. Saya cukup senang membaca pernyataan ini, karena berarti pengguna tidak diharapkan untuk mengalami ketergantungan atau kecanduan dengan minyak ini. 

Sejauh ini:

  • Wanginya unik. Awalnya kayak jamu gitu, rempah-rempah banget. Eh, lama-lama setelah dibalurkan ke kulit, baunya jadi kayak sabun gitu. Seger, deh.
  • Dapet bonus semprotan, jadi penggunaannya bisa lebih praktis.
  • Enggak panas di badan. Hangat sedikiiiit saja. 

Advertisements