Ternyata yang kecewa, bete, dan sebal bukan saya seorang. Senewennya sampai ke hati! Bagaimana tidak, pahlawan yang dipuja-puja, dinantikan hari kebebasannya dari kelaliman hukum yang berpihak, melangkah keluar dengan membawa kabar mengejutkan.

Well, tidak terlalu mengejutkan sebenarnya karena burung-burung kecil sudah membawakan kabarnya beberapa bulan yang lalu. Namun banyak yang seperti saya, memilih untuk tidak percaya sampai hal itu terjadi.

BAM.

Tersebarlah video dan foto-foto itu. Seorang sosok baru yang tiba-tiba hadir di tengah sosok-sosok lama. Sosok baru yang tampaknya out of place.

Ah, memang kau hanya manusia biasa. Pria biasa. Hanya saja… mengapa begitu cepat, Pak? Haruskah menikah lagi, Pak? Tidakkah engkau ingin membenahi hidupmu terlebih dulu? Tidakkah engkau ingin berkonsentrasi pada hal-hal baru yang akan kaukerjakan? Tidakkah engkau akan dipusingkan dengan romantisme gaya milenial?

Ah, Pak. Tahukah kau, banyak yang jadi curiga padamu. Jangan-jangan, kaulah yang mulai duluan, sehingga getol dirimu membatalkan janji setia sehidup sematimu belasan tahun yang lalu dengan perempuan sederhana itu. Perempuan yang tidak banyak omong, namun karyanya menjulang.

Ah, Pak. Tak rela rasanya hati ini melihat pendamping barumu. Ibarat alat musik, tadinya kau bersanding dengan cello yang anggun dan megah, kini kau menenteng cekrekan yang terbuat dari tutup botol dan paku. Ugh. Maaf ya, Mbaknya.

Saya masih sebal.

Advertisements